Absensi Mahasiswa dengan Fingerprint

Sepertinya ide untuk menggunakan fingerprint sebagai sarana absensi sudah muncul sejak dulu, sudah banyak lembaga, kantor dan institusi yang menggunakan fingerprint untuk memudahkan pencatatan absensi.  Saya sendiri sebagai dosen juga melakukan absensi setiap hari dengan fingerprint.  Lebih praktis, ketimbang sistem sebelumnya yang menggunakan daftar kehadiran yang harus ditandatangani setiap hari kerja. Pada beberapa waktu lalu muncul wacana untuk menggunakan fingerprint sebagai alat absensi mahasiswa.  Diharapkan dengan fingerprint pencatatan absensi akan lebih rapi dan tidak perlu repot.  Mahasiswa hanya perlu menyodorkan jari ke alat absensi di awal kuliah, tit…, langsung tercatat.  Tidak perlu mengedarkan daftar absensi.

Absensi dengan menggunakan fingerprint juga dianggap lebih sulit dimanipulasi ketimbang absensi dengan paraf atau tanda-tangan yang mudah saja dipalsukan.  Walaupun lebih sulit, tapi tetap saja mungkin untuk mengakali alat fingerprint.  Tetap saja kita dapat “titip absen” walaupun absensinya menggunakan alat fingerprint :)  Tapi bukan cara mengakali yang akan saya bahas di sini.

Yang menarik adalah ide tambahan dari penggunaan alat fingerprint:  dapat memberikan laporan dengan cepat dan lebih akurat mengenai kehadiran mahasiswa pada kuliah yang diambilnya.  Laporan tersebut dapat dilihat oleh orang tua, yang ingin memantau apakah anaknya memang benar-benar kuliah atau ternyata malah membolos.  Diharapkan dengan sistem ini maka mahasiswa akan lebih rajin masuk kelas.  Menurut saya kok tidak semudah itu ya.. Cara seperti itu adalah cara represif, menekan mahasiswa agar “terpaksa” masuk.  Kemudian yang harusnya dipertanyakan adalah: “Apakah dengan masuk kuliah mahasiswa dapat mengambil manfaat dari kuliah tersebut?”.  Dari pengalaman saya tidak semua matakuliah itu menarik, hanya beberapa matakuliah saja yang saya senangi dan saya antusias untuk mengikuti kuliahnya.

Penggunaan fingerprint apabila digunakan untuk membenahi administrasi tentunya sangat tepat guna.  Tapi jika penggunaan fingerprint untuk “menekan” mahasiswa agar rajin masuk ke kelas (tidak membolos) hal ini tidak tepat dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran itu sendiri.  Pengajaran yang baik harusnya tidak represif dan dapat menjembatani berbagai macam minat dari pesertanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s